Ilustrasi - sedang merayakan Idul Fitri (Foto: Pexels/RDNE Stock Project)
Jakarta, jurnas.news - Hari Raya Idulfitri merupakan puncak kemenangan spiritual bagi umat Islam setelah menuntaskan ibadah puasa Ramadan.
Di momen yang penuh keberkahan ini, jalinan silaturahmi antar-sesama mukmin dipererat melalui tradisi saling memaafkan dan mendoakan.
Namun, di balik beragamnya ucapan selamat yang kita temui saat ini, terdapat tuntunan mulia yang diwariskan oleh generasi awal Islam mengenai cara terbaik menyambut hari raya.
Para sahabat Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan luhur saat bertemu di hari raya.
Alih-alih sekadar ucapan formal, mereka saling melangitkan doa agar perjuangan ibadah selama satu bulan penuh diterima oleh Allah SWT.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bari mencatat bahwa ucapan yang paling masyhur di kalangan mereka adalah:
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Artinya: "Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian."
Ucapan tersebut mengandung makna yang sangat mendalam. Ia menjadi refleksi atas harapan agar puasa, salat tarawih, serta sedekah yang telah dikerjakan tidak sia-sia.
Semangat mendoakan ini sejalan dengan tujuan utama ibadah Ramadan, yakni meraih derajat takwa, sebagaimana firman Allah SWT:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: "...agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183).
(Catatan: Ayat 185 yang Anda sebutkan membahas tentang kemudahan syariat dan perintah mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya, namun esensi tujuan Ramadan secara umum berpuncak pada ketakwaan di ayat 183).
Meskipun ucapan dari tradisi sahabat dianggap lebih utama (afdhal) karena kedekatannya dengan praktik generasi terbaik, para ulama menegaskan bahwa tidak ada lafaz kaku yang diwajibkan.
Segala bentuk ucapan selamat yang mengandung doa dan harapan baik diperbolehkan dalam Islam. Penggunaan kalimat yang lebih lengkap pun sering dianjurkan untuk menambah keberkahan:
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ
Artinya: "Semoga Allah menerima amal kami dan kalian, serta menerima puasa kami dan puasa kalian."
Menghidupkan kembali tradisi saling mendoakan ini akan membuat Idulfitri terasa lebih bermakna. Hari raya bukan lagi sekadar perayaan kemenangan fisik, melainkan momentum spiritual untuk saling menguatkan ukhuwah Islamiyah dan menjaga adab sesuai tuntunan para salafus saleh.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: /redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman Hari Raya Idul Fitri Rasulullah SAW Bulan Ramadan