Ilustrasi kerajaan Samudera Pasai (Foto: Saintif.com)
Jakarta, jurnas.news - Sejarah perkembangan Islam di Asia Tenggara tidak dapat dilepaskan dari eksistensi Kesultanan Samudera Pasai di Aceh.
Di balik kejayaan kerajaan maritim tersebut, terdapat sosok visioner yakni Sultan Malik Al-Saleh yang dikenal sebagai sultan pertama sekaligus peletak dasar pemerintahan Islam yang berdaulat di Nusantara pada abad ke-13.
Sebelum memeluk Islam dan naik takhta menjadi sultan, tokoh ini memiliki nama asli Marah Silu. Berdasarkan catatan dalam kitab Hikayat Raja-Raja Pasai, Marah Silu merupakan seorang pemimpin lokal yang berpengaruh di wilayah Aceh Utara.
Proses transformasinya menjadi seorang Muslim dikaitkan dengan kedatangan Syekh Ismail, seorang utusan dari Syarif Makkah, yang berhasil membimbing Marah Silu mengucapkan kalimat syahadat.
Setelah memeluk Islam, ia mengambil gelar resmi Sultan Malik Al-Saleh (atau Malikussaleh) sebagai penanda era baru pemerintahan yang berlandaskan hukum Islam.
Kepemimpinan Sultan Malik Al-Saleh dimulai sekitar tahun 1267 Masehi. Langkah strategis pertamanya adalah mempersatukan dua kota kecil yang sedang berkembang, yakni Samudera dan Pasai, menjadi satu kesatuan politik yang kuat.
Di bawah kendalinya, Samudera Pasai bertransformasi menjadi pusat perdagangan internasional yang strategis di Selat Malaka.
Kerajaan ini menjadi titik temu bagi para pedagang dari Arab, India, hingga Tiongkok, sekaligus menjadi pusat studi agama Islam yang disegani di kawasan Timur.
Selain kecakapan dalam berpolitik, Sultan Malik Al-Saleh juga dikenal melalui hubungan diplomatiknya yang luas.
Penjelajah tersohor asal Venesia, Marco Polo, dalam catatan perjalanannya di tahun 1292, sempat menyinggung keberadaan kerajaan ini dan menyebutkan adanya pengaruh Islam yang kuat di kalangan penduduk kota pelabuhan tersebut.
Hal ini mengonfirmasi bahwa di bawah kekuasaan sang Sultan, Islam tidak hanya menjadi agama istana, tetapi juga mulai meresap ke dalam struktur sosial masyarakat luas.
Aspek biografi Sultan Malik Al-Saleh juga mencakup peranannya dalam memperkuat legitimasi keturunan. Beliau menikah dengan Putri Ganggang Sari, yang merupakan putri dari penguasa Kerajaan Perlak.
Pernikahan politik ini berhasil mengintegrasikan kekuatan dua kerajaan besar di Aceh, yang semakin memperkokoh posisi Samudera Pasai sebagai imperium Islam pertama yang paling berpengaruh di Nusantara sebelum munculnya Kesultanan Malaka.
Sultan Malik Al-Saleh mangkat pada tahun 1297 Masehi. Bukti sejarah yang paling otentik mengenai sosoknya dapat ditemukan pada nisan makamnya yang terletak di Desa Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara.
Batu nisan tersebut memiliki karakteristik seni kaligrafi Arab yang halus dengan ukiran ayat suci Al-Qur`an serta catatan sejarah wafatnya sang sultan.
Penemuan makam ini menjadi bukti arkeologis terkuat yang menandai eksistensi kerajaan Islam tertua di Indonesia dan peran besar Sultan Malik Al-Saleh dalam sejarah peradaban Melayu-Islam.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: /redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Malik Al-Saleh Samudera Pasai Marah Silu