jurnas.news
Kamis, 19/03/2026 03:07 WIB

Salim: Idul Fitri 2026 Hadirkan Paradox Mendalam





Hari raya seharusnya memperkuat semangat kebersamaan, kedamaian, dan rekonsiliasi antar sesama manusia

Ketua Dewan Pakar KPPMI yang juga Kandidat Doktor Universitas Airlangga Salim M. Phil. Foto: dok. jurnas

JAKARTA, jurnas.news - Sebagai momentum spiritual dan budaya yang mengandung makna kemenangan atas hawa nafsu dan kembali ke fitrah, Idul Fitri 2026 menghadirkan paradoks yang mendalam dan kompleks.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Pakar KPPMI yang juga Kandidat Doktor Universitas Airlangga Salim M. Phil, Rabu (18/3/2026).

Menurut Saliam, di satu sisi, hari raya seharusnya memperkuat semangat kebersamaan, kedamaian, dan rekonsiliasi antar sesama manusia, yang menjadi landasan utama dalam membangun dunia yang lebih adil dan beradab. Namun, di sisi lain, kenyataan global saat ini menunjukkan tantangan besar yang semakin nyata, yang justru bertolak belakang dengan makna spiritual tersebut.

Kondisi Idul Fitri kali ini dikelilingi oleh ketegangan baru: serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran, yang menunjukkan ketidakpastian dan kacau balau diplomasi internasional.

Serangan ini bukan hanya mencerminkan ketegangan geopolitik, tetapi juga memperlihatkan paradoks diplomasi global  di mana kekuasaan dan kekerasan semakin menjadi bahasa utama dalam menyelesaikan konflik.

Di tengah ketidakjelasan kondisi politik Indonesia yang tampaknya terombang-ambing, penuh dengan ketegangan internal, ketidakpastian arah, dan berbagai ancaman, suasana menjadi semakin tidak menentu. “Kondisi ini memperlihatkan bahwa meskipun secara ritual kita merayakan kemenangan spiritual, realitas dunia justru dipenuhi dengan ketegangan, perang, dan konflik yang tak kunjung reda,” kata Salim.

Berbagai konflik di belahan dunia mulai dari perang di Timur Tengah, konflik di Ukraina, ketegangan di Laut China Selatan, hingga ketimpangan ekonomi dan sosial yang membelah bangsa semakin menegaskan bahwa kedamaian jauh dari jangkauan.

Ketidakpastian ini memunculkan paradoks antara idealisme spiritual dan kenyataan keras yang dihadirkan oleh kekerasan dan kekuasaan. Dari perspektif filsafat dan teori, kondisi ini dapat dipahami melalui kerangka pemikiran Johan Galtung yang menegaskan bahwa perdamaian sejati tidak hanya terbentuk dari berhentinya kekerasan secara fisik, tetapi juga dari keadilan struktural (positive peace).

Ketika konflik dan ketidakadilan semakin membusuk, maka paradoks antara makna Idul Fitri sebagai momentum perdamaian dan kenyataan konflik dunia semakin tajam. Selain itu, teori konstruktivisme dalam hubungan internasional menunjukkan bahwa identitas dan kepentingan negara dapat berubah melalui proses dialog dan interaksi sosial.

Konflik terbaru menunjukkan bahwa identitas negara-negara besar dan kecil masih terikat oleh paradigma kekuasaan, kekerasan dan penindasan, bukan saling memahami sebagai sesama manusia. “Paradoks ini memaksa kita menyadari bahwa keadaan dunia saat ini adalah cermin dari kegagalan diplomasi dan keberpihakan terhadap keadilan dan kemanusiaan nilai yang harusnya kita pegang teguh di hari raya yang penuh makna ini,” ujarnya.

Lebih jauh, filsafat eksistensialisme modern menegaskan bahwa manusia dihadapkan pada pilihan: memperjuangkan kedamaian atau memperbesar konflik. Kondisi global yang penuh ancaman dan ketidakpastian ini mengajak kita untuk merenungkan makna "kembali ke fitrah" secara lebih mendalam sebagai usaha mengembalikan kemurnian dan kedalaman nilai kemanusiaan di tengah kejahatan dan kekerasan.

“Dalam konteks ini, paradoks Idul Fitri 2026 menuntut kita untuk tidak hanya berpuas diri dengan simbol kemenangan spiritual, melainkan juga berjuang untuk mengatasi kekacauan dan ketidakadilan yang ada. Seperti yang diajarkan oleh filsafat dan teori perdamaian, perdamaian sejati harus dihadirkan melalui jihad kemanusiaan, dialog yang jujur, serta keberanian memikul tanggung jawab moral bersama,” tutur Salim.

“Semoga momen ini menjadi pukulan moral terhadap kekuasaan dan kekerasan, sekaligus mendorong bangsa dan dunia untuk meneguhkan kembali nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap langkahnya,” imbuhnya.

Dalam kondisi ini, paradoks Idul Fitri justru menjadi panggilan moral yang mendalam bagi bangsa dan rakyat Indonesia sebagai contoh nyata bangsa yang mengusung nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan. Indonesia, sebagai "hati nurani dunia", memiliki peran strategis untuk menggabungkan spirit spiritual dan nilai-nilai diplomasi silaturahmi dalam menyikapi tantangan global.

Melalui konsep silatuhrahmi diplomasi ini, Indonesia dapat menjadi jembatan di tengah konfrontasi dunia yang semakin memanas, menegaskan bahwa kedamaian sejati tidak hanya sekadar absennya perang, melainkan keberpihakan kepada keadilan, hak asasi manusia, dan penghormatan terhadap keberagaman.

Idul Fitri sebagai momentum spirit dan filsafat perdamaian mengandung makna yang sangat mendalam, karena hari raya ini tidak hanya memperingati kemenangan atas hawa nafsu dan kembali ke fitrah, tetapi juga mengandung pesan universal tentang kedamaian dan rekonsiliasi.

Spirit Idul Fitri mendorong umat manusia untuk menanggalkan ego, dendam, dan kekerasan, serta membangun suasana saling mengampuni dan menguatkan ukhuwah sesama manusia di tingkat global.

Dalam konteks konflik Timur Tengah, filosofi ini secara esensial mengajarkan bahwa perdamaian sejati harus dimulai dari hati dan niat yang tulus, serta didasarkan pada rekonsiliasi moral dan kemanusiaan, bukan sekadar kekuatan militer atau politik kekuasaan.

Spirit Idul Fitri bisa menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama menegakkan gencatan senjata, menghentikan kekerasan, dan mewujudkan dialog yang bersifat inklusif serta berlandaskan solidaritas moral. Filosofinya menegaskan bahwa perdamaian tidak hanya bersifat superficially, melainkan harus mencerminkan keadilan dan kemanusiaan yang mendalam, di mana setiap bangsa dan individu mampu melihat kebesaran hati untuk memaafkan dan memperbaiki hubungan. Dengan demikian, Idul Fitri menjadi suri teladan bahwa jalan menuju perdamaian global harus didasari oleh hati yang bersih, niat yang tulus, dan keberanian moral untuk mengatasi konflik melalui rekonsiliasi dan solidaritas manusiawi.

Silaturahmi diplomasi yang didasarkan pada nilai dan filosofi Idul Fitri memiliki potensi besar untuk menciptakan perdamaian dunia yang berkelanjutan, karena menanamkan prinsip pengakuan kemanusiaan dan keadilan dari tingkat individual hingga global.

Pendekatan ini, menurut Salim, diperkaya oleh berbagai teori dan filsafat modern yang menegaskan pentingnya hubungan kemanusiaan dan moralitas dalam hubungan internasional.

Pertama, teori Kontrak Sosial dari Rousseau dan Hobbes memberikan dasar bahwa hubungan antar manusia dan negara harus didasarkan pada kesepakatan yang adil, bukan kekuasaan atau kekerasan, sehingga silaturahmi dapat berfungsi sebagai mekanisme membangun kepercayaan dan legitimasi bersama.

Kedua, filsafat Kantian tentang Cosmopolitanism dan filosofi moral universal menegaskan bahwa setiap individu dan negara memiliki kewajiban moral untuk memperlakukan satu sama lain sebagai tujuan, bukan sekadar alat. Konsep Perjanjian Dunia (Global Oath) yang diusung oleh Kant sejalan dengan spirit silaturahmi sebagai ujung tombak etika global yang mendorong perdamaian dan keadilan universal.

Ketiga, teori Dekonstruksi dari Jacques Derrida menuntut pembongkaran struktur kekuasaan dan kolonial yang mendominasi sistem internasional, serta mendorong munculnya narasi baru yang berbasis egalitarian dan dekolonialisasi hubungan antarbangsa. Dekonstruksi ini menginspirasi penolakan terhadap hegemonisme dan menegaskan pentingnya dialog serta pengakuan atas diverse identitas budaya dan agama.

Keempat, filsafat Humanisme Transendental, yang memperluas makna kemanusiaan melampaui batas-batas etnis dan nasional, menegaskan bahwa semua manusia memiliki nilai yang sama dan hak yang setara. Ini menjadi dasar bagi silaturahmi diplomasi untuk menegakkan keadilan dan perdamaian global.

Kelima, teori Peacebuilding dan Positive Peace dari Johan Galtung juga memperkuat posisi bahwa perdamaian tidak hanya ketiadaan perang, tetapi juga keberlangsungan keadilan struktural, pembangunan ekonomi yang inklusif, dan hubungan sosial yang harmonis. Pendekatan ini menegaskan bahwa silaturahmi dapat menjadi mekanisme memperkuat ketahanan sosial dan mencegah konflik yang berulang.

Dengan mengintegrasikan berbagai teori dan filsafat tersebut, silaturahmi diplomasi tidak lagi semata-mata berbasis kekuasaan atau hegemoni, melainkan menjadi ruang dialog moral dan kemanusiaan yang mampu meruntuhkan tembok kekerasan dan menciptakan tatanan dunia yang adil, berkeadilan, dan penuh kedamaian. Filosof modern seperti Derrida, Kant, dan Galtung memberikan landasan teoretis dan etis yang kuat untuk mewujudkan visi ini dalam praktek diplomasi internasional.

Momentum Idul Fitri menjadi panggung spiritual yang paling tepat untuk mengimplementasikan silatuhrahmi diplomasi. Dalam Islam, Idul Fitri adalah simbol kemenangan atas hawa nafsu termasuk nafsu untuk berkuasa dan menindas. Secara fenomenologis, Idul Fitri adalah proses "Kembali ke Fitrah," di mana manusia diingatkan pada kondisi asal yang suci tanpa dendam.

Jika konsep ini dibawa ke ranah diplomasi internasional, maka ia akan melahirkan Paradigma Rekonsiliasi Global yang tulus. Idul Fitri menawarkan jeda kemanusiaan di mana tangis anak-anak di Gaza harus digantikan dengan senyuman persaudaraan.

Ini adalah momentum bagi masyarakat dunia untuk saling menghormati dan menghargai, memastikan bahwa tidak ada lagi satu bangsa pun yang merasa lebih tinggi di atas bangsa lainnya.

Langkah ini akan menjadi tonggak sejarah baru dalam Silaturahmi Diplomasi Modern. Dengan memimpin dan membangkitkan kembali non alignment state yang memiliki visi serupa, Indonesia dapat mengorkestrasi sebuah kekuatan soft power yang sangat masif. Koalisi ini tidak hanya berbicara tentang angka ekonomi atau kekuatan militer, tetapi tentang legitimasi moral universal yang selama ini sering diabaikan oleh kekuatan hegemonik.

“Filsafat Dekonstruksi Jacques Derrida, yang mengajarkan kita untuk membongkar struktur pemikiran kolonial yang selama ini menjustifikasi penindasan atas nama stabilitas,” kata Salim.

Dalam filsafat modern, perdamaian bukan sekadar tiadanya perang, melainkan hadirnya keadilan yang radikal. Indonesia, melalui mandat konstitusionalnya, menjalankan peran sebagai "hati nurani dunia" yang menolak tunduk pada hegemoni kekuatan besar. Sebagaimana Spanyol yang berani mengambil langkah etis berseberangan dengan arus utama pendukung penindas, Indonesia mempraktikkan Etika Kepedulian (Ethics of Care) yang memandang bahwa luka satu bangsa, seperti bangsa Palestina, adalah luka bagi seluruh kemanusiaan. “Posisi ini menegaskan bahwa imperialisme dan kolonialisme adalah sisa-sisa peradaban gelap yang harus dihancurkan agar tatanan dunia baru yang berbasis kesetaraan dapat tegak,” tegasnya.

Salim menawarkan beberapa langkah strategis yang bisa diambil untuk memperkuat posisi ini: Aliansi hukum internasional tanpa standar ganda. Koalisi ini akan mendesak Mahkamah Internasional (ICJ) dan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk bertindak lebih tegas terhadap pelaku genosida dan pendudukan ilegal.

Diplomasi Tekanan Ekonomi Berjenjang: Bersama negara-negara koalisi, Indonesia dapat memulai langkah penghentian kerja sama strategis atau boikot terhadap produk dan perusahaan yang secara langsung mendanai pendudukan di Palestina, sebagai bentuk implementasi dari "penghapusan penjajahan".

Dan yang terakhir adalah Pemanfaatan Momentum Keagamaan (Idul Fitri): Menggunakan momentum Idul Fitri sebagai waktu untuk melakukan "Seruan Perdamaian Dunia dari Jakarta". Indonesia bisa mengundang pemimpin dunia untuk menandatangani deklarasi penghentian segala bentuk imperialisme modern di atas bumi. “Namun apakah mungkin karena Indonesia saat ini masuk BOP bentukan Trump yang Notabene, negara yang memimpin pertama kali menggempur Iran,” ujar Salim.

Bagi Salim, ,omentum Idul Fitri tahun 2026 harus dimaknai sebagai Titik Nol Kemanusiaan (Humanity’s Ground Zero), di mana dunia melakukan jeda total dari segala bentuk agresi. Dalam filsafat eksistensialisme modern, manusia didefinisikan oleh pilihannya; maka saat ini, dunia dihadapkan pada pilihan untuk tetap dalam siklus dendam atau memilih jalan pemaafan yang bermartabat.

Spirit Idul Fitri yang menekankan pada penyucian jiwa memberikan energi spiritual bagi diplomasi internasional untuk melampaui ego nasionalisme sempit.

Jika Amerika dan Israel bersedia menanggalkan jubah imperialisnya dan Iran membuka pintu maaf melalui dialog silaturahmi, maka bara peperangan di Timur Tengah akan bertransformasi menjadi oase perdamaian. Ini adalah momentum langka di mana nilai-nilai religius dan filsafat politik kontemporer bertemu untuk menghapuskan segala bentuk penjajahan yang tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan, demi mewujudkan taman perdamaian abadi bagi seluruh penghuni bumi.

Idul Fitri 2026 mengajarkan kita bahwa keberhasilan bukan hanya terlihat dari kemenangan ritual religi, melainkan dari keberanian kita mengatasi paradoks dan tantangan kemanusiaan dengan langkah nyata. Spirit pemaafan, rekonsiliasi, dan solidaritas harus menjadi kebijakan global yang diinisiasi dari ketulusan hati bangsa Indonesia. Paradoks ini memperlihatkan bahwa meskipun dunia menghadapi ketidakpastian dan konflik, semangat Idul Fitri dapat menjadi momentum untuk meneguhkan tekad bersama, mengubah konflik menjadi dialog, kekerasan menjadi perdamaian, dan ketidakadilan menjadi keadilan sosial.”

“Mari kita jadikan Idul Fitri 2026 sebagai titik balik keberanian bangsa Indonesia untuk memunculkan konsep perdamaian yang tidak hanya abadi secara formal, tetapi juga nyata dalam kehidupan manusia,” imbuh Salim.

Sebuah visi yang menginspirasi seluruh bangsa dan rakyatnya untuk terus berjuang mewujudkan dunia yang penuh kedamaian, keadilan, dan kemanusiaan. Karena sejatinya, paradoks terbesar adalah bahwa dari pergumulan dan tantangan tersebut, lahirlah kekuatan bangsa yang mampu menorehkan sejarah besar dalam perjalanan kemanusiaan.

Indonesia, dengan semangat dan keberanian, mampu menjawab paradoks Idul Fitri kali ini sebagai momen penguatan moral dan politik untuk menuju perdamaian dunia, demi masa depan yang lebih cerah bagi seluruh umat manusia yang berlindung di kolong langit keamanan, keadilan, dan kesejahteraan. “Lalu, mungkinkah rakyat dan pemimpin bangsa ini, dengan tekad dan hati yang tulus, akan mampu menjadi saksi perubahan monumental bagi peradaban dunia?” pungkasnya.

KEYWORD :

Idul Fitri Salim M. Phil Paradox Mendalam