Pegunungan Himalaya (Foto: Earth)
Jakarta, jurnas.news - Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa batas tertinggi pertumbuhan tanaman di kawasan Pegunungan Himalaya terus bergerak naik dalam lebih dari dua dekade terakhir. Fenomena ini menjadi indikator kuat dampak pemanasan global terhadap ekosistem pegunungan tinggi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Ecography tersebut menganalisis data satelit selama 24 tahun di enam wilayah, mulai dari Ladakh di India hingga Bhutan di bagian timur Himalaya.
Hasilnya menunjukkan bahwa batas vegetasi, yakni zona tertinggi di mana tanaman tumbuh secara kontinu, mengalami kenaikan di seluruh wilayah yang diteliti.
Dikutip dari Earth, peneliti dari University of Exeter, Ruolin Leng, menemukan bahwa laju kenaikan ini bervariasi. Di wilayah Khumbu, Nepal timur dekat Mount Everest, kenaikannya sekitar 4,7 kaki per tahun. Sementara di Manthang, Nepal tengah, mencapai hingga 22,8 kaki per tahun.
Para ilmuwan menyebut batas ini sebagai vegetation line, yaitu garis tertinggi di mana tanaman tumbuh secara merata, bukan sekadar individu tanaman yang bertahan hidup secara terpisah.
Meski beberapa tanaman dapat ditemukan di ketinggian lebih tinggi, keberadaan vegetasi yang menyatu menandakan terbentuknya ekosistem yang lebih stabil.
Secara umum, sebagian besar wilayah menunjukkan peningkatan tutupan vegetasi atau “penghijauan”. Namun, pola ini tidak merata. Wilayah timur seperti Khumbu dan Bhutan justru menunjukkan lebih banyak area yang mengalami penurunan vegetasi dibandingkan wilayah barat dan tengah.
Perubahan ini berkaitan erat dengan kondisi salju dan air. Berkurangnya lapisan salju membuat tanah lebih cepat terbuka, memperpanjang musim tanam, dan memberi peluang bagi tanaman untuk tumbuh lebih tinggi.
Namun, faktor curah hujan dan ketersediaan air juga memainkan peran penting, sehingga pemanasan saja tidak cukup menjelaskan fenomena ini.
Dampak dari perubahan vegetasi ini tidak hanya terbatas di pegunungan. Kawasan Himalaya merupakan sumber air bagi hampir dua miliar orang di Asia. Peningkatan vegetasi dapat meningkatkan proses penguapan air dari tanah dan daun (evapotranspiration), yang berpotensi mengurangi aliran air ke wilayah hilir.
Meski pemetaan satelit memberikan gambaran luas, para peneliti mengakui bahwa kondisi lokal seperti lereng curam, bayangan gunung, dan jenis tanah masih sulit ditangkap secara detail. Oleh karena itu, penelitian lapangan tambahan diperlukan untuk memahami perubahan ini secara lebih mendalam.
Kenaikan batas vegetasi juga menimbulkan tekanan bagi spesies tanaman yang telah lama beradaptasi dengan suhu dingin. Tanaman yang lebih tahan panas berpotensi menggantikan spesies asli, sehingga mengubah komposisi ekosistem di ketinggian ekstrem.
Para peneliti menilai, temuan ini menjadi indikator penting untuk memantau dampak perubahan iklim di masa depan. Namun, mereka menekankan perlunya data lapangan yang lebih rinci untuk memahami penyebab spesifik di setiap wilayah. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: /redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Perubahan Iklim Pertumbuhan Tanaman Pegunungan Himalaya Ekosistem Pegunungan Tinggi