Ilustrasi - Si Kecil berpuasa menunggu beduk Maghrib (Foto: U REPORT)
Jakarta, jurnas.news - Melatih anak berpuasa di bulan Ramadan bukan sekadar mengajarkan mereka menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah perjalanan membentuk karakter, ketangguhan mental, dan ketakwaan.
Mengingat pentingnya rukun Islam keempat ini, peran orang tua sebagai teladan dan pemberi semangat sangatlah krusial agar anak tumbuh menjadi pribadi yang optimis dan tidak mudah menyerah.
Anak-anak memerlukan dorongan semangat untuk melewati hari-hari pertama mereka berpuasa. Orang tua bisa memotivasi dengan mengisahkan perjuangan para sahabat Nabi, melibatkan mereka menyiapkan menu buka puasa favorit, atau memberikan pujian dan hadiah kecil jika mereka berhasil menyelesaikan puasanya.
Penting untuk tidak mengejek saat anak mengeluh lapar, karena itu adalah reaksi fisik yang wajar. Sebaliknya, teruslah berikan energi positif agar mereka mampu bertahan.
Agar puasa tidak terasa sebagai beban, hadirkan aktivitas yang seru di rumah. Misalnya, mengadakan kuis ringan seputar doa-doa pendek, hafalan surah juz 30, atau praktik wudu sambil menunggu waktu berbuka.
Melibatkan seluruh anggota keluarga dalam kegiatan ini akan memberikan kesan mendalam bahwa Ramadan adalah momen yang membahagiakan, bukan waktu yang melemaskan.
Anak adalah peniru yang hebat. Kesabaran dan peran aktif orang tua dalam menjalankan ibadah akan menjadi cermin bagi mereka.
Hindari menunjukkan sikap bermalas-malasan saat berpuasa agar anak tidak beranggapan bahwa puasa adalah alasan untuk tidak produktif. Dengan melihat orang tua yang tetap semangat dan ceria, anak akan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama.
Sabtu, 25/04/2026 04:04 WIB
Kamis, 23/04/2026 06:30 WIB
Sabtu, 25/04/2026 20:05 WIB