jurnas.news
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Saling Melengkapi, Prof. Didik: Perkuat Perdagangan dengan Jepang

Aliyudin Sofyan | Senin, 30/03/2026 14:18 WIB



Dalam kurun waktu lima tahun, antara 2021 hingga 2025, neraca perdagangan Indonesia dengan Jepang masih positif. Ekonom senior INDEF dan juga Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini, M.Sc., Ph.D. Foto: parmad

JAKARTA, jurnas.news – Presiden Prabowo Subianto sangat sering berkunjung ke luar negeri dengan harapan ada hasil dari diplomasi politik dan ekonomi tersebut.  Minggu ini (29/3/2026), Presiden Prabowo berkunjung ke Jepang, negara menjadi mitra dagang yang sudah setengah abad dan pengarunya sangat besar terhadap ekonomi Indonesia selama ini.

Karena itu, Ekonom Senior INDEF yang juga Rektor Universitas Paramadina mengatakan bahwa kerjasama dan hubungan ekonomi perdagangan dengan Jepang bukan hanya harus terus dijaga tetapi harus ditingkatkan. 

Dalam kurun waktu lima tahun, antara 2021 hingga 2025, neraca perdagangan Indonesia dengan Jepang masih positif. Indonesia masih surplus sebanyak USD 3,141.1 Juta.

Baca juga :
Arus Balik Melonjak, Pelni Layani 27 Ribu Penumpang Hari Ini

Berbanding dengan China, meskipun selama lima tahun terakhir, 2021 hingga 2025, tren perdagangan antara Indonesia dengan China meningkat, tetapi neraca perdagangan Indonesia kerap kali minus. Bahkan berdasasarkan data dari Kemendag per Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia dengan China tahun 2025 minus sebanyak USD -20,499.5 Juta.

Menurut Prof. Didik, sifat hubungan dagang dengan China saling bersubstitusi kompetisi pada produk-produk yang sejenis. Indonesia dan China memiliki produk-produk ekspor pertanian, pangan, dan perkebunan yang sama. “Sama dengan Indonesia, China juga mengekspor barang industri manufaktur seperti tekstil, elektronik, dan lainnya,” jelas Prof. Didik.

Ia menjelaskan, hubungan dagang yang saling mensubstitusi seperti ini bermasalah bagi Indonesia karena produk dan industri domestik kalah bersaing karena  harga produk China lebih murah. Deindustrialisasi dini (premature deindustrialization) juga terjadi karena industri dalam negeri diterpa persaingan dagang yang bersifat substitusi seperti ini. “Selain itu, neraca perdagangan sektor manufaktur terus defisit dan juga muncul tekanan pada industri UMKM yang berubah menjadi distributor barang impor China,” ungkap Prof. Didik.

Berbeda dangan ekonomi China, lanjutnya, ekonomi Jepang memang tumbuh rendah tetapi skala ekonominya masih  sangat besar dan raksasa.  Ekonomi Jepang adalah ekonomi yang besar bersama dengan ekonomi AS, China, India, Jerman, dan lainnya.

“Jadi dengan kunjungan Presiden Prabowo, tim ekonominya harus memaksimalkan kunjungan tersebut, bukan hanya diplomasi sambilan,” katanya.

Prof. Didik menyarankan, pascakunjungan tim ekonomi Indonesia harus merancang promosi kerjasama dengan Jepang karena sifat yang komplementer dan saling menguntungkan  tersebut.   Jepang melakukan sejumlah impor dari Indonesia seperti energi, batubara, LNG, produk pertanian, perikanan dan sebagainya. Sedangkan ekspor Jepang ke Indonesia berupa mesin-mesin, barang teknologi tinggi dan investasi industri. 

“Perdagangan komplementer seperti ini lebih menguntungkan dan bermakna ekonomi karena terjadi penguatan value chain keduanya di mana Indonesia masuk ke dalam rantai pasok global.  Dampaknya, ada transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja industri dan penguatan manufaktur (otomotif, elektronik),” pungkas Prof. Didik.

Ikuti Update jurnas.news di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: /redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Neraca perdagangan Prof. Didik Indonesia dan Jepang