Sekitar 200.000 Rohingya berunjuk rasa di kamp pengungsian Bangladesh, untuk menandai dua tahun sejak mereka melarikan diri dari penumpasan berdarah pasukan Myanmar.
Selama periode tersebut, militer Myanmar melakukan pelanggaran HAM sistematis terhadap warga sipil di negara bagian Kachin, Shan, dan Rakhine, termasuk memaksa lebih dari 700 ribu etnis Rohingya ke Bangladesh.
Bangladesh menilai Indonesia telah berhasil mentransformasi pertanian tradisionalnya menjadi pertanian modern.
Semuanya adalah orang Afrika, kecuali delapan dari Bangladesh.
Kejahatan perang dilakukan oleh unit militer yang sama yang memaksa 750.000 warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh pada 2017
Polisi di Pekua mengatakan 67 Muslim Rohingya dari Kutupalong, pemukiman pengungsi terbesar di dunia, dihentikan ketika mereka menunggu untuk naik kapal pukat ikan.
Ribuan Muslim terbunuh dalam penumpasan itu dan sekitar 800.000 Rohingya melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh, tempat mereka saat ini tinggal di kamp-kamp dalam kondisi yang mengerikan.
Mokhlesur mengatakan gadis-gadis Rohingya yang berusia antara 15 dan 19 tahun itu berpotensi menjadi korban prostitusi paksa.
Komoditas perkebunan kelapa sawit merupakan andalan pemerintah dalam meraup devisa.