Iran masih perlu beberapa waktu lagi untuk secara resmi mengakui Taliban sebagai pemerintah negara Afghanistan. Demikian keterangan Kementerian Luar Negeri Iran, setelah pertemuan dengan kelompok itu di Teheran.
Iran dan negara-negara besar sedang mencoba, dalam pembicaraan di Wina, untuk menghidupkan kembali kesepakatan 2015 di mana Teheran membatasi program nuklirnya dengan imbalan bantuan dari sanksi ekonomi AS, Uni Eropa dan PBB.
Iran adalah mitra dagang Timur Tengah terbesar ketiga Korea Selatan sebelum AS secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 antara Teheran dan kekuatan dunia dan menerapkan kembali sanksi yang melumpuhkan.
Musuh lama yang memutuskan hubungan pada 2016 memulai pembicaraan pada April, pada saat Washington dan Teheran sedang mendiskusikan menghidupkan kembali pakta nuklir yang ditentang Riyadh dan sekutunya.
Akses yang dimaksud ialah memasang kembali kamera seperti yang disepakati bulan ini. Jika tidak, Washington mengancam Teheran akan menghadapi tindakan diplomatik oleh Dewan Gubernur IAEA.
Biden juga mengatakan akan kembali pada kesepakatan 2015 untuk mengekang program nuklir Iran, asalkan Teheran melakukan hal yang sama.
Grossi tiba di Teheran pada Sabtu (11/9) malam, menjelang pertemuan Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional pekan depan. IAEA dan utusan Iran untuk badan tersebut akan bertemu dengan kepala baru Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami.
Duta Besar Yaman untuk Teheran Ibrahim Mohamed al-Dailami klaim tentang dugaan kehadiran Israel di wilayah Yaman, khususnya di pulau-pulau yang terletak strategis.
Langkah tersebut dapat meningkatkan ketegangan dengan Barat karena kedua belah pihak berusaha untuk melanjutkan pembicaraan tentang menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Teheran.
Kedutaan Besar (Kedubes) Iran di ibu kota Afghanistan, Kabul, tetap beroperasi, sehari setelah Teheran mencibir kegagalan militer Amerika Serikat (AS) di negara tersebut.