Kejadian ini sehari setelah Teheran meluncurkan sentrifugal pengayaan uranium canggih baru di situs tersebut.
Pemerintahan baru Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden mengindikasikan pihaknya siap kembali memasuki kesepakatan nuklir setelah Donald Trump keluar pada tahun 2015, tetapi sejauh ini belum ada tanda-tanda terobosan apa pun karena Teheran meningkatkan pekerjaan nuklirnya.
Pembatalan itu diputuskan setelah Teheran mengancam untuk mengakhiri kesepakatan nuklir dengan Badan Atom Internasional (IAEA).
Pemerintahan Presiden Joe Biden mengatakan pekan lalu bahwa pihaknya siap untuk berbicara dengan Iran tentang kedua negara yang kembali ke perjanjian itu, yang bertujuan untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir sambil mencabut sebagian besar sanksi internasional.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh bereaksi terhadap pernyataan pada Minggu oleh penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jake Sullivan, yang mengatakan AS telah mulai berkomunikasi dengan Iran atas penahanan warga AS oleh Teheran.
Ancaman tersebut adalah langkah terbaru dalam permainan Teheran di ambang batas atas Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), perjanjian untuk mengekang program nuklirnya dengan imbalan pelonggaran sanksi ekonomi.
Kesepakatan penting tahun 2015 telah digantung sejak keputusan Donald Trump untuk menarik diri darinya pada tahun 2018 dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Teheran.
Pemerintah Iran menolak usulan Presiden Prancis, Emmanuel Macron tentang perlunya kesepakatan nuklir baru dengan Teheran.
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menepis tudungin Prancis yang menyebut Teheran sedang membangun senjata nuklir.
Sanksi itu adalah yang terbaru dari serangkaian tindakan yang bertujuan untuk meningkatkan tekanan pada Teheran di hari-hari memudarnya pemerintahan Presiden Donald Trump, yang berakhir pada 20 Januari.