Indonesia masih dalam proses membangun karakter bangsa yang bersatu dalam keberbedaan
Dimulai dari membaca Al Quran, maka lahirlah pemahaman dan tindakan nyata, yang benar-benar mencerminkan karakter sebagai khaira ummah (umat terbaik), umat yang menjadikan Al Quran sebagai sokoguru bagi peradaban di Indonesia maupun di seluruh dunia.
Penyuluh petanian, termasuk widyaiswara, dosen, dan guru harus mempunyai minimal dua karakter baik, yaitu karakter etos dan karakter ibadah.
Dan yang terpenting memiliki perilaku (karakter) yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila.
Karakter yang perlu dibangun menurut Ma’ruf Cahyono adalah kemandirian yang menurut Soekarno “Berdikari” (berdiri di atas kaki sendiri).
Amanda menambahkan, pada masa pasca-pandemi ini, pendidikan yang berbasis keterampilan akan menjadi modal belajar yang penting untuk siswa. Konten-konten Zenius sendiri selalu mengedepankan keterampilan, sebelum pengetahuan.
Mengunjungi museum, apalagi yang menyimpan literasi pikiran-pikiran Pendiri Bangsa, sangat penting untuk memperkuat jati diri dan karakter bangsa, khususnya bagi generasi muda.
Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemdikbudristek, Hendarman, menerangkan tidak dipungkiri masih terdapat beberapa kasus pelajar akibat kurangnya karakter baik.
Empat Pilar MPR (Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) adalah nilai-nilai luhur bangsa yang harus ada menyatu kuat dalam diri setiap rakyat Indonesia dan menjadi karakter dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Taraf pembangunan dan ketahanan nasional di berbagai gatra tersebut bisa diukur berdasarkan imperatif Pancasila dalam ranah mental-karakter, institusional-politik, serta material-teknologikal.