Pupuk memiliki peran strategis sehingga menjadi penentu keberhasilan produksi yang ujung untuk mencapai swasembada pangan dan peningkatan kesejahteraan petani.
Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi surplus beras dari tahun ke tahun, yakni produksi di 2018 menghasilkan surplus beras 4,37 juta ton, 2019 surplus 2,38 juta ton dan 2020 surplus 1,97 juta ton.
Potensi hewan ternak tanah air sangat mungkin dikembangkan. Percaya akan potensi ini, pemerintah memiliki target untuk mencapai swasembada daging sapi pada 2026 mendatang.
Dalam upaya penyediaan benih bersertifikat, salah satu hal yang perlu diperhatikan yaitu prosesing, pengemasan, dan penyimpanan benih untuk menjaga mutu benih agar tetap baik hingga tiba di konsumen.
Kalangan dewan mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menangani persoalan konsumsi gula dan keberpihakan pada petani tebu di Indonesia.
Selain bisa swasembada pangan, dengan adanya petunjuk arah pembangunan melalui haluan negara, pemerintahan Presiden Soeharto juga berhasil membangun jalan tol pertama di Indonesia.
Swasembada pangan merupakan cita-cita bersama agar ke depan Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri secara baik serta mampu memenuhu pasar luar negeri (ekspor) secara continue.
Keputusan pemerintah untuk mengimpor beras sangat kontraproduktif dengan rencana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), bahkan bertolak belakang dengan Program Strategis Nasional (PSN) Food Estate yang pernah digaungkan Presiden Joko Widodo.
Komoditas pertanian yang masih impor tersebut di antaranya, kedelai, jagung, gula, bawang putih dan beras.
Bulog harus benar-benar fokus kepada ketahanan pangan, bukan mencari laba perusahaan.