Ongkos politik menjadi semakin mahal, karena masyarakat juga semakin transaksional. Mereka melihat momentum pilkada atau pileg sebagai ajang bernegosiasi dan memeras para kandidat.
Berbagai langkah Djarot yang "luar biasa sibuk" menjelang akhir masa jabatan menarik dicermati.
Arief dianggap tidak mengerti sejarah bangsa ini dan diyakini berbicara hanya sebagai alat untuk membentuk opini miring.
Secara kalkulasi politik sangat wajar bila PDIP atau setidaknya Golkar, juga akan mendukung RK.
Jangan lupa dalam dua pilkada terakhir, Jabar telah menjadi kuburan tokoh-tokoh yang terlalu percaya diri pada modal popularitas dan elektabilitas.
Suap itu dimaksudkan agar BPK memberika opini wajar tanpa pengecualian atas Laporan Keuangan Tahun Anggara (TA) 2016 Kemendes PDTT.
Dalam skala nasional pecahnya kongsi PKS-Gerindra di Jabar bisa menjadi pintu masuk perpecahan koalisi permanen secara nasional.
Jadi pertemuan tadi malam merupakan peringatan bagi Jokowi.
Dengan penampilan semacam itu tidak mungkinlah Jokowi menjadi diktator. Apalagi latar belakangnya juga sipil, bukan militer.