Nama Achmad Soebardjo mungkin tidak setenar Soekarno atau Hatta di buku sejarah sekolah, namun kontribusinya terhadap kemerdekaan dan diplomasi Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia adalah diplomat ulung, perumus kemerdekaan, dan Menteri Luar Negeri pertama Republik Indonesia.
Tanggal 16 Agustus 1945 menjadi saksi salah satu momen paling dramatis dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Dua tokoh penting, Soekarno dan Mohammad Hatta atau Sukarno Hatta, "diculik" oleh para pemuda yang dipimpin oleh Soekarni Kartodiwirjo atau Sukarni ke Rengasdengklok, Karawang, demi satu tujuan: mempercepat proklamasi kemerdekaan.
Pemprov Banten juga berperan penting bagi Bandara Soekarno-Hatta, khususnya terkait kebijakan dan peraturan di wilayah Banten.
Momen tangis itu terjadi ketika Hasto menyampaikan soal semangat perjuangan untuk membangun Indonesia seperti yang diwariskan Presiden Soekarno.
Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri mengangkat pidato Presiden pertama RI Soekarno pada Sidang Umum PBB tahun 1960 sebagai rujukan moral dalam membangun tatanan dunia baru.
Penerbangan layangan di area Bandara Soekarno-Hatta menyebabkan 21 pesawat batal terbang dan mendarat
Sang Proklamator, Bung Karno bukan hanya seorang pemimpin, melainkan seorang visioner yang jauh melampaui zamannya, seorang pejuang yang rela mengorbankan segalanya demi tanah air tercinta.
Pesawat tersebut berangkat dari Jeddah, Arab Saudi, dengan tujuan Bandara Soekarno-Hatta Tangerang.