Diperlukan waktu lebih dari satu dekade untuk mengganti bahan bakar nuklir dari Rusia dengan alternatif domestik.
Kritik yang tidak biasa itu menyusul laporan IAEA pekan lalu bahwa Iran telah memberikan jawaban yang memuaskan atas satu kasus partikel uranium yang dicurigai.
Amunisi yang mengandung depleted uranium adalah bagian dari paket bantuan militer yang dikirim ke Ukraina bersama dengan tank tempur Challenger 2.
Hasil analitiknya menunjukkan adanya partikel uranium yang diperkaya tinggi yang mengandung hingga 83,7 persen U-235".
Ini adalah uranium kemurnian tertinggi yang pernah ditemukan di Iran, yang secara bertahap meningkatkan pengayaannya sejak 2019.
Berdasarkan ketentuan kesepakatan nuklir, Iran dilarang memperkaya uranium di atas 3,67 persen dengan pengecualian kegiatan reaktor risetnya. Uranium yang diperkaya di atas 90 persen dapat digunakan dalam senjata nuklir.
Iran memproduksi logam uranium yang diperkaya hingga 20 persen kemurnian fisil untuk pertama kalinya, dan mengangkat kapasitas produksi uranium yang diperkaya menjadi 60 persen.
Langkah tersebut dapat meningkatkan ketegangan dengan Barat karena kedua belah pihak berusaha untuk melanjutkan pembicaraan tentang menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Teheran.
Arab Saudi prihatin dengan meningkatnya aktivitas nuklir Iran, yang dianggap mengancam keamanan regional. Pernyataan ini disampaikan pejabat anonim dari Kementerian Luar Negeri Saudi, pasca Teheran memulai proses produksi logam uranium yang diperkaya.
Iran bermaksud memperkaya uranium hingga 20 persen, dalam tanda terbaru pembicaraan Wina tentang menghidupkan kembali rencana aksi komprehensif bersama bisa terhenti.