Indonesia saat ini sedang menghadapi perubahan iklim ekstrem, yang menyebabkan intrusi air laut, kekeringan dan kebanjiran berkepanjangan, dan serangan pengganggu tanaman (OPT).
Beberapa dampak perubahan iklim yang harus diwaspadai antara lain cuaca ekstrem, seperti hujan lebat, kekeringan, gelombang panas, dan badai tropis.
Perubahan iklim adalah fenomen alam yang sudah lama, sedang dan akan terus terjadi karena merupakan hukum alam.
Perubahan iklim diproyeksikan memiliki dampak yang tidak proporsional pada negara-negara anggota ASEAN, baik dari perspektif lingkungan maupun sosial ekonomi.
Ilmuwan khawatir dengan jumlah lahan di Bumi yang kian menyusut tiap tahunnya. Fenomena ini berdampak pada penyelamatan planet dari perubahan iklim dan kemusnahan spesies.
Perubahan iklim berdampak pada sejumlah tanaman di Inggris, yang diketahui rata-rata berbunga hampir sebulan lebih cepat. Demikian hasil penelitian yang dipimpin Prof. Ulf Buntgen dari University of Cambridge.
Bencana banjir bandang yang memicu tanah longsor di ibu kota Ekuador telah menewaskan sedikitnya 11 orang. Demikian keterangan pemerintah di Quito pada Selasa (1/2).
Indonesia ingin menjadi contoh dan mengajak seluruh negara untuk bekerja bersama melawan dampak perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan lingkungan dengan aksi nyata.
Menurut tim penulis, lahan produktif yang cocok untuk menanam kopi, kacang mete, dan alpukat akan berubah secara dramatis saat Bumi kian memanas. Lahan kopi di Brasil, Indonesia, Vietnam, dan Kolombia akan menyusut hingga 50 persen pada 2050.
Sebagian besar energi ini disimpan oleh tumbuhan dalam bentuk biomassa dan sekitar 50 persen dari biomassa merupakan karbon.