Laporan ini muncul dalam publikasi kantor berita resmi Korut edisi Minggu (23/6), yang menyebut Kim memperoleh `surat istimewa`.
Korea Utara berada di bawah moratorium PBB untuk menguji segala jenis senjata nuklir sejak 2006, setelah negara itu melakukan uji coba senjata nuklir secara sepihak.
Proses denuklirisasi pun mandek sejak perundingan Washington-Pyongyang Februari lalu tak mencapai kesepakatan apapun.
Mekdad juga mengecam rasa tidak hormat AS atas kewajibannya dalam pembicaraan dengan Korea Utara mengenai sanksi dan denuklirisasi.
Kedua negara tak menghasilkan kesepakatan apapun terkait denuklirisasi, maupun sanksi internasional.
KTT kedua antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong Un gagal karena tidak sepakat soal sanksi dan denuklirisasi.
Selama pertemuan yang digelar di Hanoi, Vietnam, Pemimpin Korut Kim Jong Un tidak memberikan keterangan lengkap terkait persiapan pembongkaran fasilitas nuklir Yongbon.
Selain persiapan untuk pertemuan puncak, agenda pejabat AS Stephen Biegun dengan pejabat Korut Kim Hyok Chol juga akan membahas komitmen Korut pada KTT Singapura terkait denuklirisasi.
Di hadapan Komite Intelijen Senat, Direktur Intelijen Nasional Dan Coats membeberkan bahwa Pyongyang tidak sepenuhnya setuju melakukan denuklirisasi.
Kim Jong un mengatakan akan ada kemajuan yang lebih cepat dalam denuklirisasi, jika Washington mengambil tindakan yang sesuai.