Nadiem menyebut ketiga organisasi masyarakat (ormas) tersebut telah berjasa di dunia pendidikan, bahkan sebelum Indonesia merdeka.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian menyatakan pihaknya mendukung adanya evaluasi terhadap Program Organisasi Penggerak (POP) Kemendikbud yang saat ini menjadi polemik.
Konpres tersebut sekalipun tidak menyinggung mengenai mundurnya Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, LP Maarif Nahdlatul Ulama, dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Dalam konferensi pers virtual pada Jumat (24/7) malam, Nadiem mengatakan proses evaluasi lanjutan tersebut akan berjalan selama 3-4 minggu ke depan.
Dalam informasi yang dihimpun oleh Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat (BKHM), Mendikbud menggelar konferensi pers virtual pada Jumat (24/7) pukul 20.00 WIB.
Ketua PGRI Unifah Rosyidi menyatakan bahwa organisasi profesi tersebut memutuskan untuk tidak bergabung, dalam program yang digawangi oleh Mendikbud Nadiem Anwar Makarim tersebut.
Meskipun kasusnya tinggi di AS, Brasil dan India, kepala unit penyakit dan zoonosis WHO, Dr. Maria Van Kerkhove meyakini masih ada peluang untuk mengendalikan virus tersebut.
AS sedang berusaha mempolitisasi pandemi virus corona baru (COVID-19) dengan serangan gencarnya pada organisasi WHO.
Dia menyebut keputusan yang diambil oleh kedua ormas terbesar di Tanah Air itu menyiratkan ada hal yang tidak beres di dalam kementerian yang digawangi Nadiem Anwar Makarim tersebut.
Mendikbud perlu belajar sejarah pengabdian NU dan Muhammadiyah kepada pendidikan