Dengan mendukung perang koalisi Saudi di Yaman dengan senjata, pengisian bahan bakar udara dan penyerangan bantuan, Gedung Putih terlibat dalam kekejaman ini.
Setelah sempat mesra untuk menjalin koalisi di Pilpres 2019, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menunjukkan kode terjadinya pecah kongsi.
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akan mengumumkan cawapres yang akan mendampinginya besok, Kamis (9/8) malam. Keputusan akan diambil setelah ada kesepakatan dengan partai koalisi.
Belum genap sebulan dalam kemesraan untuk menjajaki koalisi, Partai Gerindra dan Partai Demokrat sedang dilanda perang dingin. Kedua elite partai tersebut saling serang pimpinan partai.
Koalisi Partai Demokrat dengan Partai Gerindra seketika hancur lebur. Pertemuan Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang sedianya digelar malam ini terpaksa batal.
Keputusan calon wakil presiden (Cawapres) dari kubu Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto akan membuka peluang terbentuknya poros ketiga pada Pilpres 2019 mendatang.
Partai koalisi pendukung Presiden Jokowi akan meminta masukan ke Front Pembela Islam (FPI dan sejumlah Ormas dalam menyusun visi misi serta konsep Nawacita jilid II.
Peluang Poros ketiga diluar koalisi Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto masih sangat terbuka lebar dalam kontestasi Pilpres 2019 mendatang. Apa landasannya?
Partai koalisi pendukung Prabowo Subianto harus piawai dalam mendaur ulang pasangan Capres-Cawapres sebagai penantang Presiden Jokowi untuk berlaga pada Pilpres 2019 mendatang.
Wacana terbentuknya poros ketiga pada kontestasi Pilpres 2019 mendatang masih terbuka lebar. Pembentukan poros ketiga dilakukan oleh partai yang berbasis Islam dengan membentuk koalisi umat.