Salah satu poin Deklarasi Bandung yang dihasilkan adalah dukungan atas pembentukan Forum MPR yang bersama Persatuan Parlemen OKI, Forum ini bersama-sama memperjuangkan generasi muda, untuk masa depan yang lebih baik.
Terowongan tersebut berada di bawah area terminal Bandara Internasional Yogyakarta. Tercatat sebagai terpanjang di Indonesia, yakni sepanjang 1.406 meter (1,4 km) menghubungkan Desa Glagah dan Desa Paliyan, Temon, Kulon Progo. Underpass ini juga memiliki lebar 7,85 meter, clearance atas 5,2 meter dan samping 18,4 meter.
Isu inklusivitas, kesetaraan perempuan dan generasi muda menjadi bagian semangat pembentukan Forum Majelis Permusyawaratan Dunia dalam rangka meningkatkan kerja sama antarnegara.
Forum ini adalah mitra PUIC, bagian dari PUIC seperti juga forum-forum yang lain yang lebih dahulu ada di PUIC.
Peran perempuan menjadi perhatian hampir semua delegasi yang mengikuti konferensi internasional di Bandung.
Banyak delegasi yang tidak langsung kembali ke negaranya tetapi ingin melihat destinasi wisata di Bandung, dan beberapa destinasi wisata di Indonesia seperti Yogyakarta dan Bali.
Seluruh delegasi memiliki kesamaan pandangan untuk mendukung agar bangsa Palestina bisa mendapatkan kemerdekaan seutuhnya.
Konferensi internasional di Bandung ini diikuti sebanyak 15 lembaga Majelis Permusyawaratan Rakyat, Majelis Suro, atau Nama Sejenis Lainnya dan para Pimpinannya serta dua organisasi internasional.
MPR RI bila disepakati oleh konferensi internasional ini, siap menjadi tuan rumah untuk sekretariat dari World Consultative Assembly Forum.
History walk menyegarkan kembali Spirit Bandung dalam penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 yang berhasil diselenggarakan Indonesia di Gedung Merdeka.