Berdasar data Kemendesa PDTT, sejak tahun 2015 sampai tahun 2020, produksi daging sapi di Indonesia mengalami fluktuasi.
Dengan pengembangan closed loop system hilirisasi industri peternakan bisa berjalan secepatnya.
Ada berbagai aspek yang menjadi titik pengendalian program, diantaranya adalah peningkatan kualitas pakan, bibit, kesehatan hewan, pengendalian pemotongan betina produktif dan pasca panen, pengolahan produk asal hewan serta manajemen usaha.
Dia berharap, ke depannya lebih banyak lagi pabrik peternakan yang mulai mengembangkan industri 4.0 dari mulai hulu sampai hilirnya untuk bersaing dengan negara maju.
Pemanfaatan KUR paling besar oleh subsektor perkebunan kemudian diikuti oleh tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan.
Ternak dari pemerintah ini merupakan ternak unggul yang berasal dari Unit Pelayanan Teknis (UPT) Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan yaitu BPTU-HPT Pelaihari untuk Itik dan BPTU-HPT Sembawa untuk ayam KUB-1 (Kampung Unggul Balitbangtan).
Pendampingan usaha peternakan juga perlu terus dilakukan dalam memberdayakan kelompok peternak. Misalnya, optimalisasi produksi ternak, akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR), program kemitraan atau skema kredit lain yang terjangkau peternak.
Kegiatan panen pedet sebagai momentum menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki dalam mendorong pembangunan peternakan nasional, yang berdampak langsung pada kesejahteraan serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Terkait usaha peternakan terdapat realisasi kombinasi pertanian/perkebunan dengan peternakan (mix-farming) sebesar Rp 5,26 triliun untuk 204.682 debitur.
Produk peternakan Indonesia yang akan di ekspor dan dipasarkan di UEA sebelumnya harus melengkapi persyaratan sebagaimana yang tertera di website MoCCaE.