Sudah satu bulan sejak militan garis keras Taliban, yang merebut kekuasaan pada Agustus, melarang anak perempuan kembali ke sekolah menengah sementara memerintahkan anak laki-laki kembali ke kelas.
Setelah pengambilalihan Afghanistan oleh Taliban, gadis-gadis remaja disuruh tinggal di rumah dari sekolah sampai lingkungan belajar yang aman dapat dibangun.
Bantuan dukungan bagi anak yatim, piatu dan yatim piatu berupa fasilitas pengasuhan, dukungan psikososial serta bantuan Rp300 ribu per bulan bagi yang belum bersekolah dan Rp200 ribu bagi yang sudah sekolah.
Sebaiknya ada regulasi yang jelas, yang bisa menyetarakan TKD Guru Madrasah dengan TKD Guru di sekolah umum, sebagai bentuk penghormatan sekaligus keberpihakan terhadap jasa dan pengabdian para guru.
Beberapa paket kebijakan yang diperuntukkan untuk mendukung para guru di antaranya relaksasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dapat digunakan untuk membayar honor bagi guru non-Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Education New Zealand (ENZ), bermitra dengan Kopi Tuli dan Sekolah Bisnis Universitas Canterbury (UC Business School), mengumumkan peluncuran edisi kedua kompetisi ide bisnisnya, KIWI Challenge 2021.
Taliban sejauh ini menolak memberikan alasan untuk mengizinkan anak perempuan kembali ke sekolah menengah, salah satu tuntutan utama masyarakat internasional setelah keputusan bulan lalu bahwa sekolah di atas kelas enam hanya akan dibuka kembali untuk anak laki-laki.
Saat ini negara maju sudah mulai menghindari produk pertanian yang disinyalir mengandung residu pestisida, logam berat, dan agrokimia.
Taliban sendiri belum membuat komitmen tegas pada pendidikan anak perempuan meskipun ada tuntutan internasional untuk mengizinkan semua anak Afghanistan kembali ke sekolah.
Kedatangan Nadiem tidak diduga oleh Sukardi Malik, guru honorer yang sudah mengabdi selama 25 tahun itu. Nadiem juga meminta izin untuk dapat menginap di kediaman guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Praya Timur itu.