Uji coba melibatkan 2.247 remaja dan berlangsung antara Mei dan September tahun lalu ketika varian Delta menjadi strain dominan di Amerika Serikat (AS).
Dampak penyebaran COVID-19 varian Omicron akan berbeda dengan penyebaran Delta tahun 2021.
Saat kasus mulai menurun di banyak negara, rata-rata lebih dari 2 juta kasus masih dilaporkan setiap hari.
Ini menjadi penting karena kita harus yakin bahwa seluruh SOP kemudian aplikasi yang ada betul-betul bisa mendeteksi. Khususnya terhadap munculnya varian baru yang mau tidak mau ini harus betul-betul kita jaga.
Terakhir kali Negeri Jiran itu mencatat lebih dari 17.000 infeksi baru adalah pada 17 September ketika mencapai 17.577 kasus.
Sehingga tentunya kita harus melakukan langkah-langkah sebagai upaya menghadapi varian Omicron. Salah satunya yang paling prioritas adalah bagaimana kita melakukan akselerasi vaksinasi.
Pandemi COVID-19 tidak akan berakhir pada varian Omicron dan Selandia Baru harus mempersiapkan diri untuk menghadapi lebih banyak varian virus tahun 2022.
Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa gelombang Omicron lebih cepat menyebar dibandingkan varian Delta, namun juga lebih cepat menurun.
Australia telah menutup daerah perbatasannya dari pihak luar pada Maret 2020.
Iran, dengan populasi sekitar 85 juta, telah melaporkan lebih dari 6,5 juta infeksi dan lebih dari 132.500 kematian terkait virus corona sejak pandemi dimulai.