Perum Bulog sebagai operator pemerintah, ditugaskan untuk menjaga tiga pilar di antaranya, ketersedian, penyedian dan stabilitas.
Data dari metode pengumpulan data yang baru ini mesti disyukuri, yang tentunya tidak lagi menimbulkan pro kontra dan polemik terkait data produksi padi dan beras.
Apabila digarap 10 juta hektar saja, ditanam minimal dua kali setahun, dengan produktivitas 6 ton per hektar, akan menghasilkan padi 120 juta ton setara 60 juta ton beras
Lahan rawa mampu menghasilkan pangan, terutama beras pada musim paceklik. Jadi paceklik yang terjadi pada November hingga Januari tidak menyebabkan stok padi nasional turun drastis.
Mengacu data produksi ini, diperkirakan pada tahun 2018 produksi beras mencapai 48 juta ton, sementara kebutuhan beras dalam negeri sekitar 30 hingga 33 juta ton per tahun.
Pada 2017, volume ekspor beras kategori ini mencapai 3.433 ton, atau meningkat lebih dari 2.540 persen dibandingkan capaian ekspor tahun 2014 yang hanya sekitar 130 ton.
Pelaksanaan impor tanpa analisa dan studi yang mendalam, apalagi stok beras di pasaran cukup, maka secara hukum ekonomi akan membuat harga menurun
Perum Bulog menegaskan Indonesia tidak membutuhkan impor beras hingga 2019.
Di bawah kendali Menteri Amran, sektor pertanian seolah menjadi investor lokal yang menyumbangkan keuntungan finansial sangat besar.
Kebijakan Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita terkait impor sejumlah bahan pangan khususnya beras dinilai mengkhianati petani dan merugikan negara.