Ikatan Guru Indonesia (IGI) melontarkan kritik keras terhadap Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), dengan menyebut institusi yang digawangi oleh Nadiem Anwar Makarim itu kementerian terserah.
Pasalnya, saat ini guru, siswa, dan orang tua dipaksa untuk bertemu dalam sebuah platform digital setelah pemerintah memutuskan meniadakan pembelajaran tatap muka di sekolah.
Sejumlah survei yang dilakukan oleh Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menemukan bahwa 85,5 persen orang tua (ortu) cemas bila sekolah dimulai pada pertengahan Juli ini.
Petani adalah garda terdepan dalam penyediaan pangan di masa pandemi COVID-19.
Dalam studi tersebut, 46,8 persen siswa menyatakan belajar di rumah tidak menyenangkan dengan alasan terbanyak ialah terlalu banyak tugas dari guru.
Kinerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) di bawah kepemimpinan Nadiem Anwar Makarim mendapatkan kritik dari sejumlah organisasi guru.
Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menegaskan bahwa peran guru pasca pandemi virus corona baru (Covid-19), tetap tidak tergantikan oleh teknologi.
Bahkan, kunjungan guru ke rumah peserta didik selama pandemi virus corona baru (Covid-19) juga tetap berlangsung, akibat keterbatasan akses internet di wilayah-wilayah tertentu.
Tips pertama ialah memastikan diri untuk tetap tenang. Orang tua, lanjut Lenny, harus terus menunjukkan dukungan terhadap anak, baik ketika belajar maupun bermain.
Pandemi virus corona baru (Covid-19) telah membawa paradigma baru di tengah masyarakat. Salah satunya, orang tua dituntut menjadi pengganti guru sekolah untuk anak, sementara proses pembelajaran dilakukan di rumah.