Amerika Serikat (AS) diyakini menjadi pihak yang paling diuntungkan dalam perang Rusia vs Ukraina. Di saat kedua belah pihak babak belur, AS siap-siap mengeruk dolar.
Menurut badan PBB, OHCHR, sebagian besar korban sipil tewas akibat penggunaan senjata peledak, termasuk penembakan dari artileri berat dan sistem peluncur banyak roket serta serangan udara.
Gencatan senjata yang bertujuan untuk melanjutkan evakuasi warga sipil di Mauripol dan Volnovakha berakhir gagal. Ukraina menuding pasukan Rusia terus melancarkan tembakan.
Rusia tidak mematuhi gencatan senjata dan terus menembaki Mariupol sendiri dan sekitarnya.
Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, menjanjikan bantuan senilai US$70 juta (Rp992 miliar) untuk membeli peralatan militer dan senjata untuk Ukraina.
Mantan bek timnas Ukraina dan Arsenal, Oleh Luzhnyi, memutuskan untuk menunda karir kepelatihannya demi memperjuangkan negaranya yang saat ini sedang diserang oleh pemerintah Rusia.
Ketua Uni Eropa, Ursula von der Leyen, mengumumkan langkah-langkah terbaru pada Minggu (27/2) kemarin, mengirimkan senjata ke Ukraina, dan memukul sekutu Rusia Belarus dengan sanksi karena memfasilitasi invasi.
Serbia sebagai salah satu dari tiga negara yang memasok senjata ke militer Myanmar sejak merebut kekuasaan tahun lalu
Israel memperingatkan setiap pendapatan yang dilihat Teheran dari keringanan sanksi baru akan digunakan untuk membeli senjata yang dapat membahayakan Israel.