Kementerian Pertanian (Kementan) berharap dapat mampu membantu petani dan peternak yang modal usahanya berasal dari KUR, sehingga dapat terus menjalankan usahanya salama pandemi COVID-19
Dengan bantuan KUR, Indonesia bisa bertahan dari berbagai gejolak dan ancaman krisis pangan karena petani terus melakukan produksi.
Kehadiran KUR, menurut Syahrul adalah salah satu upaya negara untuk memastikan kesejahteraan bagi para petani di seluruh Indonesia dan membangun pertanian yang maju, mandiri, dan modern.
Kementan memfasilitasi pemberikan pembiayaan usaha dengan bunga terjangkau melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Ketut mengatakan, data realisasi KUR pada tahun 2019, khsusu di sektor peternakan mencapai Rp 7,5 triliun.
Khusus untuk hortikultura, pihaknya menargetkan penyerapan dana KUR hingga Rp 6,39 triliun atau enam kali lipat lebih besar daripada anggaran APBN Hortikultura.
“Kalau mau bersinergi dengan UMKM yang untung ya BTN-nya. Kalau pelaku UMKM bisa selesaikan kreditnya, usahanya maju dan bisa di-top up karena dalam KUR itu ada sistem top up. Kemudian dia juga bisa selesaikan KPR. Jadi yang bisa punya rumah itu bukan hanya orang-orang penghasilannya tetap seperti pegawai saja, para pelaku UMKM juga bisa selama ekonominya dia mampu membayar,” ujar Rinny.
KUR dengan bunga 6% tersebut diharapkan dapat mempermudah petani mendapatkan modal dan pendampingan yang mudah tanpa harus takut terjerat rentenir dan tengkulak.
Kementan sudah menyiapkan anggaran KUR sebesar Rp50 triliun.
Kementan juga mendorong petani atau pelaku usaha untuk memanfaatkan prmodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).