Jika perang berlanjut hingga 2022, Yaman akan menempati urutan pertama negara termiskin di dunia, dengan 79 persen populasi hidup di bawah garis kemiskinan dan 65 persen diklasifikasikan sebagai sangat miskin.
Serangan pada 14 September lalu itu sudah terang-terangan diklaim oleh militer Houthi. Namun Saudi tetap bersikukuh mengatakan bawah seranga tersebut disponsori oleh Iran.
Pekan ini, Aramco mengajukan dokumen permintaan proposal (Request For Proposal atau RfP) ke bank awal untuk mendapatkan pinjaman.
Perang rezim Riyadh yang berkelanjutan terhadap Yaman sangat memalukan bagi masyarakat internasional dan merupakan ancaman besar bagi perdamaian dan stabilitas di kawasan itu.
Tembakan pesawat tak berawak menghantam dua infrastruktur kilang minyak Aramco di utara Arab Saudi dalam serangan yang diklaim pemberontak Houthi di Yaman.
Orang-orang Houthi tidak akan ragu-ragu untuk meluncurkan masa kesakitan yang besar, jika seruan mereka untuk perdamaian diabaikan.
Serangan itu merupakan contoh luar biasa dari kecakapan militer pasukan tentara Yaman dan pejuang sekutu dari Komite Populer.
Negara yang tidak memiliki keraguan sama sekali tentang pertumpahan darah di negara yang dilanda perang harus menanggung konsekuensi dari tindakan mereka.
Pejuang Yaman Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu, tetapi AS membantah dan mengklaim serangan itu dilakukan Iran.
Sikap AS tidak akan pernah menghentikan Yaman yang menjadi korban perang Arab Saudi untuk memberikan tanggapan seperti ini.