Sungguh memalukan bahwa Tunisia, yang telah menyaksikan transisi demokrasi dan revolusi melawan tirani dan kediktatoran, akan menerima seorang penjahat yang tangannya diwarnai dengan darah warga Saudi dan Yaman
Sengketa terbaru antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan CIA menyangkut kasus Jamal Khashoggi adalah satu lagi putaran dalam perebutan kekuasaan Washington.
Darah Khashoggi masih hangat, pembunuh Bin Salman tidak diterima di Tunisia.
Kebijakan baru tersebut untuk melindungi ketertiban umum, memperkuat persatuan nasional, melestarikan tatanan sosial, dan melestarikan nilai-nilai dan kebajikan.
laporan intelijen AS (CIA) terkait keterlibatan Pangeran Mahkota Saudi, Mohammad bin Salman dalam skandal pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi hanya prasangka.
Mohammed bin Salman akan menghadiri pertemuan G20 di Buenos Aires pada akhir bulan yang juga akan dihadiri oleh para pemimpin dari Amerika Serikat, Turki dan negara-negara Eropa.
Perancis memberlakukan larangan perjalanan pada 18 warga Saudi terkait pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashogg.
Gedung Putih membutuhkan Arab Saudi karena minyaknya, untuk melawan Iran, dan kemampuannya melawan terorisme di wilayah tersebut.
Pemerintah Denmark berharap negara Uni Eropa lainnya juga membekukan penjualan senjata ke Arab Saudi seperti yang telah dilakukan Jerman.
Analis politik mengatakan Raja Salman dari Arab Saudi dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman mungkin mengurangi perang di Yaman dan blokade Qatar sebagai bentuk balas budi terhadap AS.