Trump mengatakan AS bermaksud untuk tetap menjadi mitra setia Arab Saudi, meskipun Pangeran Muhammad memiliki pengetahuan tentang pembunuhan Khashoggi.
Melemahkan pengaruh Putra Mahkota di negaranya akan meningkatkan stabilitas di Arab Saudi dan di seluruh Timur Tengah.
Arab Saudi menolak adanya eksploitasi politik terkait kasus pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi di dalam konsulat Saudi di Istanbul
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif mengeluarkan pernyataan yang akan membuat geram Donald Trump. Pasalnya, dalam pernyataannya tersebut Zarif seolah mengejek sikap Trump atas kasus Jamal Khashoggi yang tewas di Konsulat Arab Saudi.
Trump mengatakan meskipun ada kemungkinan bahwa Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman terkait pembunuhan Jamal Khashoggi, AS akan tetap menjadi mitra setia kerajaan.
Sejak tewaskanya Khashoggi, Riyadh dipaksa untuk mencopot MBS. Tetapi Raja Salman tampaknya bertekad untuk memastikan putranya tetap di pucuk kepemimpinannya.
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu juga meminta bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Amerika Serikat (AS), jika kerjasama dengan Saudi berakhir buntu.
Trump tak menutup kemungkinan MBS terlibat dalam pembunuhan keji tersebut, namun dia menggarisbawahi tak satu pun orang mengetahui fakta pembunuhan itu.
Kebijakan tersebut merupakan sinyal tegas dari Jerman, yang bulan lalu memberlakukan larangan menjual senjata ke Arab Saudi hingga pelaku pembunuhan Khashoggi sudah ditemukan.
Di tengah gejolak pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, sejumlah anggota keluarga penguasa Arab Saudi berupaya mencegah Putra Mahkota Mohammed bis Salman (MBS) menjadi raja