Harga minyak dunia turun pada Kamis (7/2) pagi, setelah persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) naik, dan tingkat produksi di negara itu bertahan di level rekor.
Hal itu menyusul laporan menunjukkan ada kenaikan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS), dan sanksi minyak Venezuela.
Zanganeh mengungkapkan meski Yunani dan Italia telah dibebaskan dari sanksi AS tersebut, namun mereka tetap tidak membeli minyak dari Iran.
Namun demikian, sanksi-sanksi Amerika Serikat terhadap minyak Venezuela dan pemotongan pasokan minyak mentah yang dipimpin Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) membatasi penurunan lebih lanjut harga minyak.
Dikutip dari Reuters, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS berada di harga US$54,77 per barel pada 02.23 GMT, naik 21 sen atau 0,4 persen.
Harga minyak mentah naik pada awal perdagangan karena sanksi pemerintah Amerika Serikat terhadap perusahaan energi milik negara Venezuela, PDVSA
Arab Saudi berencana untuk menghabiskan 100 miliar riyal (Rp375 triliun) pada tahun 2019 dan 2020 sebagai bagian dari strategi industri besar-besaran yang bertujuan menyapih kerajaan dari minyak,
Arab Saudi, pengekspor minyak mentah terbesar di dunia, berencana untuk membangun dua reaktor nuklir untuk mengurangi ketergantungannya pada minyak untuk pembangkit listrik.
Kelemahan China itu juga mempengaruhi negara lain. Ekspor Korea Selatan melambat ke tingkat pertumbuhan enam tahun terendah 2,7 persen pada 2018, data resmi menunjukkan pada Selasa.
Gubernur Bank Sentral Iran (CBI), Abdol Naser Hemmati mengkonfirmasi via akun Instagram-nya bahwa menyusul China, Korea Selatan, India, dan Turki, Jepang juga mulai mengimpor minyak Iran lagi.