Pidato Bapak Presiden bukan hanya berisi komitmen, tetapi peta jalan yang konkret dan visioner untuk memajukan pendidikan serta menguatkan jati diri bangsa melalui budaya kita.
Tahun 2045 akan menjadi tonggak bersejarah. Saat Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaan. Perayaan ini bukan sekadar momentum ulang tahun, tetapi juga menjadi titik awal dari Indonesia Emas, sebuah era kejayaan dan kemajuan bangsa yang kita impikan bersama.
Prabowo menyebut mereka memandang bahwa pemikiran para pendiri bangsa seperti Ir. Sukarno, Hatta, dan Sjahrir tidak cocok di zaman ini.
Makan bergizi gratis, program ini bukan sekadar memberi makan, tapi sebuah investasi besar bagi masa depan bangsa.
Peringatan ini adalah saat yang tepat untuk menghayati bahwa konstitusi kita bukanlah sekadar dokumen, melainkan konstitusi yang hidup, dan memastikan kita tetap bersatu sebagai satu bangsa yang utuh.
MPR mengajak semua elemen bangsa meneguhkan kembali komitmen terhadap agenda pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) sebagaimana diamanatkan dalam TAP MPR Nomor XI/MPR/1998 dan TAP MPR Nomor VIII/MPR/2001.
Amanah sejarah ini menuntut hadirnya kekuatan nasional sejati, kekuatan yang mampu menjaga kedaulatan, membangun kemandirian, dan merawat kebudayaan sebagai jati diri bangsa.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Vokasi PKPLK Kemdikdasmen, Tatang Muttaqin menekankan penguatan pendidikan nonformal dan informal merupakan strategi penting dalam meningkatkan daya saing bangsa di tengah disrupsi teknologi, perubahan ekonomi, dan dinamika demografi global.
Pendidikan hari ini adalah penentu nasib bangsa dalam menapaki abad kedua kemerdekaan Indonesia Emas 2045.
Setiap tanggal 14 Agustus, bangsa Indonesia memperingati Hari Pramuka sebagai momentum reflektif terhadap perjalanan panjang dan kontribusi nyata Gerakan Pramuka dalam membentuk karakter generasi muda