Larangan uji coba rudal balistik nuklir dan antarbenua (ICBM), yang sudah disepakati dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS) tidak lagi berlaku.
Korea Utara berjanji akan melakukan uji coba rudal "kejutan Natal" jika AS tidak datang ke meja perundingan. Pyongyang mencatat tidak akan menyerah pada tekanan Washington karena sudah tidak ada ruginya.
Turki menghadapi sanksi AS atas keputusannya untuk membeli sistem pertahanan rudal S-400 Rusia
Departemen Pertahanan AS mengatakan telah menguji coba rudal balistik jarak menengah, tes kedua dalam empat bulan dari rudal ofensif, yang dilarang di bawah INF.
Turki tidak akan mundur dari pengadaan sistem rudal S-400 dan kontak dengan sekutu NATO-nya, khususnya AS, untuk mencari solusi untuk masalah ini.
Amerika Serikat (AS) menguji coba rudal balistik jarak menengah pada Kamis (12/12) tengah malam.
Pyongyang mengatakan, pihaknya sudah melakukan uji yang sangat penting di lokasi mesin rudal, mungkin tes darat dari mesin untuk menyalakan peluncur satelit atau rudal balistik antarbenua (ICBM).
Para ahli rudal berpendapat bahwa uji yang dilaporkan kemungkinan merupakan uji statis mesin roket daripada peluncuran rudal, yang biasanya dan cepat terdeteksi negara tetangga Korea Selatan dan Jepang.
Moskow malah mengatakan, pihaknya tidak melanggar kesepakatan itu dan yakin AS berencana untuk meninggalkan kesepakatan itu sebagai bagian dari rencananya untuk mengembangkan rudal canggihnya sendiri.
Teheran belum menanggapi klaim Eropa, namun sudah berulang kali mengatakan, Iran tidak memiliki hulu ledak nuklir dan tidak merancang rudal yang memiliki hulu ledak senjata nuklir.