Mei lalu, Iran mulai secara bertahap mengurangi komitmennya di bawah JCPOA untuk membalas tindakan sepihak Washington tersebut.
Persenjataan Rusia dan model peralatan militer yang menjanjikan berarti hulu ledak AS itu bukan ancaman langsung terhadap keamanan Rusia, tetapi mengkhawatirkan.
Usaha Gedung Putih sia-sia untuk membuat sekutu-sekutunya di Eropa sejalan dengan kesepakatan nuklir 2015 dengan Iran, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).
Sanksi itu disebut masih kelanjutan dari upaya Paman Sam untuk menekan Teheran setelah Presiden AS, Donald Trump menarik diri dari perjanjian nuklir multilateral Iran 2015 pada Mei 2018.
Keputusan Trump menarik negaranya dari perjanjian nuklir 2015 Iran, karena pertumbuhan ekonomi Teheran sudah melejit setelah implementasi pakta tersebut.
Tekanan maksimum Trump ditujukan untuk mendapatkan pengaruh maksimal sebelum negosiasi untuk membongkar program nuklir dan mengatasi kegiatan yang jahat Iran.
Pertemuan kesepakatan nuklir Iran ditunda hingga Februari karena para ahli membutuhkan lebih banyak waktu untuk mempersiapkannya.
Keputusan negara-negara Eropa tunduk pada taktik dominan Presiden AS, Donald Trump terhadap kesepakatan nuklir Iran hanya berhasil membangkitkan selera makan pasangan Melania itu.
Dalam dua tahun tarakhir, Korea Utara sudah berani mengambil langkah sepihak, termasuk menghentikan uji coba nuklir dan misilnya, demi membangun kepercayaan AS. Sebaliknya, Washington justru menodong Pyongyang.
Trump juga mendesak penandatangan lain, terutama negara-negara E3, untuk keluar dari kesepakatan tersebut.