Dalam pengumuman yang disampaikan pada Minggu (5/1), pernyataan itu menekankan bahwa setelah keputusan tersebut, Iran akan melanjutkan program nuklirnya hanya berdasarkan kebutuhan teknisnya.
Iran mengumumkan tidak akan lagi mematuhi Perjanjian Nuklir 2015, setelah Amerika Serikat (AS) membunuh komandan Pasukan Quds, Jenderal Qassem Soleimani
Benjamin Netanyahu keceplosan menyebut negaranya memiliki senjata nuklir, ketika menyampaikan kesepakatan pipa gas bawah laut antara Israel dengan Yunani dan Siprus.
Terlepas dari semua tekanan dan sanksi, Israel dan AS sudah gagal membuat Iran menyerah. Justru negera tersebut bergerak maju meskipun situasi ekonominya mengerikan.
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un mengatakan, tidak ada lagi alasan Pyongyang untuk terikat moratorium deklarasi balistik rudal balistik dan uji coba bom nuklir.
Dia juga mewanti-wanti akan melakukan demonstrasi "senjata strategis baru" dalam waktu dekat.
Larangan uji coba rudal balistik nuklir dan antarbenua (ICBM), yang sudah disepakati dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS) tidak lagi berlaku.
Kim menegaskan Korut tidak akan pernah melepaskan keamanannya untuk keuntungan ekonomi Washinton, dalam menghadapi apa yang ia sebut sebagai peningkatan permusuhan AS dan ancaman nuklir.
Seruan pejabat Amerika Serikat (AS) untuk perpanjangan embargo dianggap sebagai langkah kebijakan luar negeri yang tidak memiliki dasar dan prinsip, berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2231.
Gempa berkekuatan 5 skala ritcer (SR) mengguncang Iran selatan pada Jumat (27/12) pagi. Lokasi gempa berada di bawah pembangkit listrik tenaga nuklir negara Republik Islam itu.