Senjata itu diyakini pernah digunakan untuk menargetkan program energi nuklir Republik Islam Iran.
Iran tidak akan mengalami tekanan ekstra dari sanksi AS dua tahun setelah diberlakukan kembali menyusul penarikan Washington dari perjanjian nuklir Iran.
Arab Saudi tidak ingin menandatangani kesepakatan yang akan mengesampingkan kemungkinan memperkaya uranium.
Rouhani mengatakan, sangat memalukan bagi AS setelah menarik diri dari perjanjian nuklir multilateral 2015 yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan memberlakukan kembali sanksi ekonomi yang keras terhadap Iran.
Walaupun Iran tidak merasa malu dalam mempelajari ilmu-ilmu baru dari yang lain, ia tidak ingin universitas-universitasnya meniru sistem pendidikan Amerika Serikat (AS) dan meniru budaya Barat yang salah.
Rouhani menguraikan strategi dan rencananya dalam menangani berbagai masalah yang dihadapi negara Negeri Para Mullah, khususnya penarikan AS dari kesepakatan multinasional 2015.
Salehi menyinggung kondisi terbaru unit 2 dan 3 dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr.
Zarif mengatakan, tiga pihak Eropa dalam perjanjian nuklir, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), sudash gagal memenuhi kewajiban mereka di bawah pakta dan bahkan melanggarnya dalam beberapa kasus.
Republik Islam siap untuk kembali semua komitmennya di bawah JCPOA jika pihak lain memenuhi kewajiban mereka. Jika tidak, Iran akan mengurangi komitmennya.
Departemen Luar Negeri AS dikabarkan mengatakan bahwa Washington sudah menerima undangan dari Swedia untuk melanjutkan dialog dengan perwakilan Pyongyang di sana dalam dua minggu ke depan.