Proyek SSC yang telah berlangsung selama 1 tahun ini merupakan kemitraan setara antara Indonesia dan Denmark, khususnya dalam pengembangan susu organik.
Ada berbagai aspek yang menjadi titik pengendalian program, diantaranya adalah peningkatan kualitas pakan, bibit, kesehatan hewan, pengendalian pemotongan betina produktif dan pasca panen, pengolahan produk asal hewan serta manajemen usaha.
Dia berharap, ke depannya lebih banyak lagi pabrik peternakan yang mulai mengembangkan industri 4.0 dari mulai hulu sampai hilirnya untuk bersaing dengan negara maju.
Melalui kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), peternak diminta agar tidak menjual dan melalulintaskan babi milik mereka yang sakit sehingga tidak menyebarkan penyakit ke wilayah lain.
Pendampingan usaha peternakan juga perlu terus dilakukan dalam memberdayakan kelompok peternak. Misalnya, optimalisasi produksi ternak, akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR), program kemitraan atau skema kredit lain yang terjangkau peternak.
Mentan menginstruksikan untuk selalu membuat inovasi-inovasi dan teknologi artificial inteligen dalam usaha peningkatan produksi.
Kerja sama ini lebih menekankan untuk memasarkan produk pertanian asal Indonesia di Denmark senilai DKK 1,2 juta atau Rp 2,6 miliar
Kementan orkuat jejaring dan kapasitas laboratorium kesehatan hewan (veteriner) guna mengantisipasi ancaman kejadian penyakit hewan.
Breeding farm saat ini memiliki indukan sebanyak 5600 ekor betina GGPS, 5600 ekor betina GP (fase growing) dan 16.800 ekor betina PS ( fase growing) dengan perkiraan hasil produksi di tahun 2022 mencapai 1.600.000 ekor DOC Final Stok.
Kinerja ekspor komoditas peternakan pada tahun 2021 periode bulan Januari – Oktober (angka sementara) dibukukan mencapai 278.563 ton dengan nilai USD 986.378 atau setara Rp 14.302 triliun.