Dengan bergabungnya Partai Demokrat ke Prabowo, memastikan tidak ada lagi peluang poros baru yang sempat mencuat dan sempat menjadi gonjang-ganjing politik.
Komunikasi kami bangun dalam dua minggu ini, baik dengan Sekjen Demokrat Mas Riefky maupun dengan Mas Ibas selaku Waketum. Tapi bahwa pada akhirnya belum berjodoh, bukan tidak berjodoh.
Begitu MTP (Majelis Tinggi Partai) kemarin selesai mengambil keputusannya, Mas AHY sebagai Ketum yang punya hubungan sangat baik dengan Mbak Puan mengirim pesan dan pamit.
Bergabungnya Partai Demokrat ke koalisi (pendukung) Prabowo adalah hal yang tidak mengejutkan sama sekali. Sebab, dalam dua pilpres sebelumnya (2014 dan 2019), Partai Demokrat juga selalu mendukung Prabowo.
Partai Demokrat menarik diri dari koalisi perubahan dan bergabung ke Prabowo Subianto yang kini diisi Partai NasDem, PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa).
Pada kesempatan itu, Ketum AHY juga menitipkan agenda perubahan dan perbaikan yang diusung Partai Demokrat.
Partai Amanat Nasional merasa senang, gembira, haru, dan bersyukur kepada Allah Swt, Tuhan Yang Maha Kuasa, karena Partai Demokrat menyatakan siap sedia bekerjasama, bergabung, dan berjuang bersama-sama di KIM.
Cak Imin juga mengeklaim 3 partai sudah solid dalam Koalisi Perubahan, serta tidak menutup pintu untuk partai lain bergabung
Pak Huda sudah bilang, biasanya kalau dalam koalisi siapapun yang ada PKB di situ biasanya menjadi pemenang pemilu.