Katanya junjung tinggi demokrasi, tapi faktanya ada kecenderungan mengeksploitasi SARA untuk kepentingan politik.
Isu Suku, Agama, Ras dan Antar golongan (SARA) adalah isu yang masih mengganjal terutama menjelang Pemilu serentak 2019
Politik identitas berbau SARA digoreng dalam kampanye pemilu 2019. Ini tidak mendidik, karena urusan khilafah dipolitisir.
Selain tak dibenarkan menurut aturan perundang-undangan, isu SARA juga rentan mengundang konflik, dan mengganggu harmoni kehidupan antarumat beragama.
Dalam masalah terpisah, Sara Netanyahu menghadapi dakwaan resmi karena diduga mengalihkan $ 104.000 dalam dana publik untuk pengeluaran pribadi.
Aksi unjuk rasa hingga penyebaran informasi di media sosial yang meninggalkan nilai kesantunan budaya Melayu Riau, menjelang Pemilu 2019, berpotensi menimbulkan perpecahan.
Generasi milenial harus muncul menjadi generasi cerdas ditahun politik dengan tidak mengembangkan kebencian karena perbedaan SARA sebab hal tersebut tidak tepat di Indonesia yang memang berdiri di atas keberagaman.
Bahkan dalam pemilihan Presiden Amerika, isu SARA tetap ada. Kemenangan Trump tidak lepas dari isu SARA.
Sara menginstruksikan staf kediaman Perdana Menteri di Yerusalem untuk memesan makanan senilai sekitar ILS350.000 (USD96.600) pada periode 2010 hingga 2013.